blog

Doa memohon ampunan Allah

0

DOA MEMOHON AMPUNAN ALLAH

Riyadh al-Shalihin 1429

وَعَنْ أبِي هُرَيْرَةَ أنَّ رَسُولَ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كَانَ يقُولُ في سُجُودِهِ:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ : دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ .

رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Abu Hurairah ra.  Rasulullah saw. biasa mengucapkan dalam sujudnya:

Allahummaghfir li zanbi kullahu, diqqabu wa jillahu, wa awwalahu wa akhirahu, wa alaniatahu wa sirrahu.Ya Allah, ampuni aku atas semua dosaku, yang kecil dan yang besar, yang dulu dan yang akan datang, yang tampak dan yang tersembunyi.

(HR Muslim)


Hadis sahih, diriwayatkan oleh Muslim, hadis no. 745; dan Abu Daud, hadis no. 744.

Riyadh al-Shalihin 1475

وَعَنْ أَبي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ الله عَنْه، أَنَّه قَالَ لِرَسُول اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُوْ بِهِ فِي صَلَاتِي. قََالَ :

قُلْ : اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْماً كَثِيراً، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِر لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ .

متَّفَقٌ عَليْهِ

وفي رِوايةٍ : وَفي بيْتي. وَرُوِي : ظُلْماً كَثِيراً، وروِيَ كَبِيراً بِالثاءِ المثلثة وبِالباءِ الموحدة. فَيَنْبغِي أَن يُجْمَعَ بَيْنَهُمَا، فَيُقَالُ : كَثيراً كَبيراً .

Dari Abu Bakar al-Shiddiq ra. bahwa ia berkata kepada Rasulullah saw.; Ajarkanlah kepada aku sesuatu doa yang dapat aku baca dalam shalatku! Beliau saw. bersabda:

Katakanlah yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak berbuat zalim kepada diriku sendiri, dan tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Zat yang Maha Pengampun lagi Penyayang.

(Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan: Dalam rumahku. Dalam riwayat lain disebutkan: Penganiayaan yang banyak, ada yang mengatakan: Penganiayaan yang besar. Karena itu sebaiknya dua kata itu disatukan menjadi: Katsiran kabiran, artinya yang banyak dan besar.


Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadis no. 5851; Muslim, hadis no. 4876; al-Tirmizi, hadis no. 3454; al-Nasa’i, hadis no. 1285; Ibn Majah, hadis no. 3825; Ahmad, hadis no. 8 dan 28.

Riyadh al-Shalihin 1476

وَعَن أَبي موسَى رضَيَ الله عَنْه، عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَنَّه كَانَ يَدعُو بِهَذا الدُّعَاءِ :

اللَّهُمَّ اغْفِر لِي خَطِِيئََتِي وَجَهْلِي، وإِسْرَافِي في أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلََمُ بِهِ مِنِّي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ .

مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Musa ra. dari Nabi saw. bahwa Beliau saw. berdoa dengan doa ini yang artinya:

Ya Allah, ampunilah kesalahan dan kebodohanku, berlebihanku dalam setiap urusanku, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Ya Allah, ampunilah kesalahanku yang aku lakukan dalam kesungguhan dan ketidak seriusan, ketidaksengajaan maupun kesengajaanku, dan semua itu ada padaku. Ya Allah, ampunilah aku terhadap apa yang telah lalu maupun yang akan aku lakukan, apa yang aku sembunyikan dan apa yang kulakukan dengan terang-terangan, dan apa yang engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Engkau adalah Yang Maha Mendahulukan, Engkau Yang Maha mengakhirkan, dan Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu.

(Muttafaq ‘alaih)


Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadis no. 5919 dan 5920; Muslim, hadis no. 4896; Ahmad, hadis no. 18904.

Riyadh al-Shalihin 1480

وَعَنْ ابنِ عبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كَانَ يَقُولُ :

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلََيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، وإِلَيْكَ حَاكَمْتُ . فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

زَادَ بَعْضُ الرُّوَاةِ :

وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ .

متفَقُ عليهِ

Dari Ibn Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. mengucapkan dalam doanya yang artinya:

Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku bermusuhan, dan dengan hukum-hukum-Mu aku memberikan ketentuan hukum. Maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang kemudian, yang aku sembunyikan serta yang aku tampakkan. Engkau adalah Maha Mendahulukan serta Maha Mengakhirkan, tiada Tuhan melainkan Engkau.

Beberapa perawi Hadis ini menambahkan kalimat yang artinya:

Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

(Muttafaq ‘alaih)


Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadis no. 1053; Muslim, hadis no. 1288; Abu Daud, hadis no. 655; al-Tirmizi, hadis no. 3340; al-Nasa’i, hadis no. 1601; Ibn Majah, hadis no. 1345; Ahmad, hadis no. 2575, 2612, 2673, 3196 dan 3289; Malik, hadis no. 451; al-Darimi, hadis no. 1448.

Riyadh al-Shalihin 1872

وعَنِ ابْنِ عُمَر رَضِي الله عَنْهُما قََال : كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فِي المَجْلِسِ الْوَاحِدِ مَائَةَ مَرَّةٍ :

 رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَليَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ .

رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ، وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ

Dari Ibn Umar ra. berkata: Kita semua pernah menghitung Rasulullah saw. dalam sekali majelis mengucapkan istighfar sebanyak seratus kali, yaitu:

Rabbighfir li wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rahim. artinya: Ya Tuhan, ampunilah aku serta terimalah taubatku , sesungguhnya Engkau adalah Maha Penerima taubat lagi Penyayang.

(HR Abu Daud dan al-Tirmizi dan berkata: Hadis hasan sahih)


Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Daud, hadis no. 1295; al-Tirmizi, hadis no. 3356; Ibn Majah, hadis no. 3804.

Riyadh al-Shalihin 1874

وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رضِي الله عَنْهُ قَالَ : قال رسُولُ اللّه صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وسَلَّم :

مَنْ قَالَ : أَسْتَغْفِرُ اللّه الَّذِي لَا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيهِ، غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ .

رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ والحاكِمُ، وَقَالَ: حدِيثٌ صَحِيْحٌ على شَرْطِ البُخَارِيِّ ومُسلمٍ

Dari Ibn Mas’ud ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda:

Barangsiapa yang mengucapkan: Astaghfirullahal-ladzi lailaha illa huwal hayyal qayyuma wa atubu ilaih artinya: Aku memohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus Makhluk-Nya dan aku bertaubat kepada-Nya, maka diampunkanlah semua dosanya sekalipun ia pernah melarikan diri dari barisan yang sedang berperang.

(HR Abu Daud, al-Tirmizi dan Hakim dan Hakim berkata bahwa ini adalah Hadis menurut syarat Imam-al-Bukhari dan Muslim)


Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Daud, hadis no. 1292; dan al-Tirmizi, hadis no. 3501.

Riyadh al-Shalihin 1875

وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ :

سيِّدُ الاسْتِغْفار أَنْ يقُول الْعبْدُ : اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لا إِلَه إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَني وأَنَا عَبْدُكَ، وأَنَا على عهْدِكَ ووعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ما صنَعْتُ، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ علَيَ، وأَبُوءُ بذَنْبي فَاغْفِرْ لي، فَإِنَّهُ لا يغْفِرُ الذُّنُوبِ إِلاَّ أَنْتَ . منْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِناً بِهَا، فَمـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الجنَّةِ، ومَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وهُو مُوقِنٌ بها فَمَاتَ قَبل أَنْ يُصْبِح، فهُو مِنْ أَهْلِ الجنَّةِ .

رَوَاهُ البُخَارِيّ

أَبُوءُ : بباءٍ مضْمومةٍ ثُمَّ واوٍ وهمزَةٍ مضمومة، ومَعْنَاهُ : أَقِرُّ وَأَعترِفُ .

Dari Syaddad Ibn Aus ra. dari Nabi saw. yang bersabda:

Istighfar paling baik adalah mengucapkan yang artinya: Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian dan ketentuan yang aku ikrarkan kepada-Mu. Aku mohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan. Aku mengakui akan kenikmatan yang Engkau limpahkan pada diriku dan aku mengakui pula akan dosaku. Maka, ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni semua dosa kecuali Engkau. Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu dia mati hari itu juga sebelum siang berganti sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan, barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari, lalu dia mati sebelum malam berganti pagi, maka dia termasuk penghuni surga.

(HR al-Bukhari)

Abu-u dengan ba’ yang didhammahkan, kemudian waw dan hamzah mamdudah, artinya ialah mengikrarkan serta mengakui.


Hadis ini diriwayatkan juga oleh al-Bukhari, hadis no. 5831; al-Tirmizi, hadis no. 3315; al-Nasa’i, hadis no. 5427; Ahmad, hadis no. 16488 dan 16508.

Riyadh al-Shalihin 1877

وعَنْ عَائِشَةَ رَضي اللّه عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ قَبْل موْتِهِ :

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُ اللّه وأَتُوبُ إِلَيْهِ .

مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Aisyah ra. yang berkata: Rasulullah saw. itu memperbanyak ucapannya sebelum wafatnya, yaitu yang artinya:

Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

(Muttafaq ‘alaih)

– Sumber Artikel at: http://masuksurga.pusatkajianhadis.com

Cara Mendapatkan Ampunan Allah

0

“Tak ada gading yang tak retak”

Begitulah pepatah menggambarkan kehidupan manusia. Sejak manusia lahir di dunia, tumbuh besar dan mencapai dewasa tidak akan luput oleh dosa. Kesalahan kecil baik disengaja maupun tidak, akan menambah rekening dosa seseorang. Begitu juga dengan dosa besar yang dilakukan secara sengaja dan sadar, akan memberatkan timbangan dosa yang menggunung.

Alangkah baiknya sebelum ajal menjemput, setiap umat muslim bertobat. Dengan ampunan Allah SWT yang Maha Pengampun, sebesar apapun dosa seseorang dapat diampuni. Sesuai dengan firman Allah SWT berikut ini:

Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’”. (QS. Az Zumar: 53).

Rasulullah SAW bersabda:

Allah telah berfirman, Aku adalah Dzat yang layak untuk ditakuti (takwa). Barangsiapa bertaqwa kepada-Ku dan tidak menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku pasti memberinya ampunan”.

Berikut ini adalah cara agar mendapatkan ampunan dari Allah SWT:

  1. Taubat

Taubat yang diterima oleh Allah SWT dapat menghapus segala dosa yang telah lalu baik besar maupun kecil, yang disengaja maupun tidak disengaja. Adapun taubat yang diterima oleh Allah SWT memiliki beberapa syarat, diantaranya sebagai berikut:

  1. Menyesali segala dosa yang telah dilakukan
  2. Melepaskan diri dari jeratan dosa
  3. Niat yang kuat dan tidak akan mengulangi
  4. Mema’afkan orang lain

Ketika seseorang ingin mendapatkan ampunan Allah SWT, maka seseorang harus belajar untuk mengampuni kesalahan orang lain. Sering seorang muslim mendapatkan perlakuan yang tidak baik oleh orang lain, tidak sedikit yang didzalimi hingga menimbulkan sakit fisik maupun hati. Agar kesalahan dan dosa seseorang diampuni oleh Allah SWT hendaklah seseorang tersebut memaafkan dulu segala kesalahan orang lain tanpa menunggu orang lain meminta maaf terlebih dahulu.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nuur: 22).

Rasulullah SAW bersabda:

“Dua orang umatku pada hari kiamat nanti akan datang dengan duduk dan berlutut dibawah ‘Arasy. Lalu, berkatalah orang pertama, ‘Ya Tuhan, lakukanlah balasan kedzaliman dari saudaraku ini. Karena sungguh telah berbuat dzalim kepadaku.’

Allah berkata kepada orang kedua, ‘Berikan bayaran kedzaliman yang pernah engkau lakukan kepada saudaramu itu.’

Jawab orang kedua, Ya Tuhanku, sungguh seluruh amal kebaikanku telah habis.’

Maka Allah berfirman kepada orang pertama, ‘Bukankah engkau telah mendengar bahwa kebaikannya telah habis.’

Kata orang pertama, ‘Andai seperti itu, ambilah oleh-Mu keburukan-keburukanku dan tumpahkanlah kepadanya.’

Kemudian Allah SWT bertanya kepada orang pertama, ‘Apa engkau memiliki hal yang lebih baik dari itu?’

‘Apakah itu wahai Tuhanku?’ jawab orang pertama

Allah berfirman, ‘Angkatlah kepalamu dan lihatlah.’

Kemudian orang pertama mengangkat kepalanya dan memandang surga. Maka dilihatnya di surga ada sebuah istana yang terbuat dari emas permata yang belum pernah dilihat padanannya.

‘Milik sultan mana itu, Tuhanku?’ tanya orang pertama

‘Milik seorang nabi? Ataukah milik seorang syahid?’

Allah SWT berfirman ‘Istana itu milik orang yang sanggup membayar harganya.’

‘Wahai Tuhanku, siapakah itu?’ tanya kembali orang pertama

Maka Allah SWT menjawab, ‘Engkaulah yang memilikinya.’

‘Bagaimanakah caranya?’ tanya kembali orang pertama

‘Dengan kata maafmu kepada saudaramu.’ jawab Allah

Maka berkatalah orang pertama ‘Wahai Tuhanku, aku telah memaafkannya, aku mengampuninya.’

Lalu, Allah berfirman, ‘Peganglah tangan saudaramu, masuklah kalian berdua ke surga.’

  1. Memohon ampun

Untuk menghapus dosa yang telah menumpuk perlu memohon ampun secara terus menerus dan bersungguh-sungguh. Memohonlah ampun kepada Allah SWT dengan sepenuh hati. Karena Allah SWT tahu apa yang tersembunyi disetiap hati umatnya. Barangsiapa yang memohon ampun kepada Allah SWT, maka akan dikabulkan permintaannya. Seperti seseorang saat meminta bantuan kepada orang lain, orang yang sepenuh hati meminta bantuan tentu akan diperkenankan permohonannya.

Allah SWT berfirman:

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu dperkenankan-Nya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfaal: 9-10). 

Allah mencintai orang yang meminta ampunan kepadaNya

0

Sadar atau tidak kita, Allah sebagai Rabb alam semesta ini terlalu sayang kepada orang yang meminta ampunan, ataupun bertaubat. Allah pernah berfirman

“ sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang memohon ampunan/ bertaubat dan orang-orang yang selalu membersihkan dirinya”. QS: Al-Baqarah ayat 222.

Dan banyak lagi ayat-ayat Allah yang menganjurkan kita segera minta ampun kepada Allah, karna Allah juga tahu bahwa kita manusia selalu berlumuran dosa, bahkan banyak yang kecanduan dalam bermaksiat.

Saking sayangnya Allah kepada hambanya yang meminta ampunan, Allah sengaja turun kelangit dunia untuk meng-cek dan mendengar siapa yang meminta ampunanNya, lalu Allah mengampuni segala dosanya walaupun dosanya sudah kelewatan banyak, tapi waktunya hanya sedikit, tepatnya sepertiga malam sampai menjelang subuh. Jadi anda harus mengorbankan mimipi-mimpi yang gak jelas itu.. hehe..

Hemm.. ini bukan saya yang ngomong, tapi ini adalah keterangan dari kekasihku… Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bagi teman-teman yang ingin tau lafazh haditsnya, silahkan di cek di kitab “shahih Bukhari dan Shahih Muslim” atau di maktabah syamilah, tulis “ ينزل ربنا “  lalu pilih kitab hadist diatas, enter dan….

Sahabat-sahabat sekalian.. kalimat berikut ini akan membuat anda terkaget-kaget, diharapkan untuk bersiap-siap..

“ kalau kalian tidak lagi berdosa, satu kampung suciii semuanya, pasti Allah akan singkirkan kalian, lalu Allah mendatangkan orang-orang yang berdosa kemuadian mereka meminta ampun”

Inggat..!! Allah mendatangkan orang yang berdosa lalu meminta ampunan, bukan orang berdosa yang gak mau minta ampun ya.. kalau yang berdosa dan ga mau minta ampun kepada Allah, kehutan aja sana!!

Saudaraku yang mulia.. kalimat diatas bukan dari dukun, bukan pula kata SBY, tapi kata Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam bukhari dan Muslim dari hadits Abi Hurairah. Masyi..?!

Selanjutnya kita akan beralih pada pembahasan yang lain, yaitu..

Untung dan rugi dari meminta ampun

Kata orang sebelah “dalam segala sesuatu pasti ada untung dan ada ruginya”

Baik… kita akan jelaskan keuntungan dari meminta ampun kepada Allah, yang sebenarnya tidak akan bisa saya sebutkan smuanya, karna saking banyaknya.. jadi kita akan jelaskan beberapa point nya aja…

  1. Orang yang meminta ampun pasti akan diampuni, tentu saja bagi yang bersungguh-sungguh, sebagaimana yang saya sebutkan pada hadits diatas. Masih ingat kan?!

Karna Allah terlalu sangat malu bila ada yang meminta ampun lalu ditolak Allah, jadi bagaimanapun besarnya dosa kita, pasti akan diampuni bila kita sungguh-sungguh memintanya. Apapun jenis dosa dan sebesar apapun dosa tersebut

So.. yang pernah berzina silahkan minta ampun! Yang pernah mencuri silahkan minta ampun! (Tapi kembaliin juga tu barang yang sudah dicuri!!) Yang pernah meninggalkan shalat silahkan minta ampun, yang pernah durhaka sama orangtua mari minta ampun dan berbakti kepada orangtua. Begitu juga yang pernah usil kirim SMS “berhadiah” kepada saya silahkan minta ampun kepada Allah dan minta maaf sama saya.. hehe

Ini bunyi hadits tersebut..

إن الله يستحي أن يبسط العبد إليه يديه فيهما خيرا فيردهما خائبتين

“ sesungguhnya Allah malu ketika hambanya berdo’a dengan mengankat tangan lalu Allah menolak permintaanya”

Makanya salah satu agar do’a kita dikabulakn Allah, angkatlah tangan anda ketika berdo’a. Karna Rasulullah juga sering mengangkat kedua tanganya ketika berdo’a, bahkan kata Aisyah hingga nampaklah ketiaknya

Bagi teman-teman bila ingin berdo’a mengangkat tangan, harus memahami fiqh waqi’i, atau lihat sikon dulu… jangan sampai ada orang lain yang resah sewaktu kita mengangkat tangan!

  1. Yups… berikut adalah keuntungan yang luar biasa bagi yang membiasakan diri dengan meminta ampun. Dengarkan hadits ini. “siapa yang membiasakan beristighfar (meminta ampun), maka Allah akan mencerahkan kegalauan yang dialaminya, menghadirkan jalan keluar dari setiap kesempitan yang dihadapinya dan memberinya rezki yang tak terduga. Riwayat Imam Muslim

Artinya meminta ampun itu anti galau! Anti lelet! Dan anti kere! Selama anda rajin dan membiasakan beristighfar maka kegalauan tidak akan berani nempel sama anda, semua urusan akan jadi mudah dan tentunya rezki akan semakin dekat dan semakin lancar serta bersahabat

Dulu ketika As masuk negara Mesir untuk study, ternyata ada syarat yang hilang, yaitu rekomendasi visa dari Universitas yang harus diikut sertakan dengan visa yang sudah ada. Karna buru-buru, kertas itu tercecer entah dimana, sampai di Mesir…

Ternyata benar,, itu diperiksa, dan jadi syarat boleh atau tidaknya masuk ke mantan negara Fir’un itu. Hem…

Al-Hamdulillah si As ingat dengan hadits diatas, jadi sambil tawakkal terus membaca “astaghfirullah”. Ternyata waktu giliran As tidak diperiksa, lansng dipersilahkan menuju pintu keluar… Hamdulillah

Anda tahu kenapa siAs tidak diperiksa?! Padahal smua orang yang datang menunjukan dokumend yang sama?! Dialah Allah yang membolak-balikan hati Manusia!! Yakinlah!!

Anda masih ingat dengan Fir’un yang mengualarkan undang-undang darurat?! Undang-undang itu berbunyi “setiap bayi laki-laki yang lahir harus dibunuh sampai beberapa tahun berikutnya, demi menjaga stabilitas dan keamanan kerajaan fir’un”

Mulai hari itu undang-undang ini berlakukan, smua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dibunuh, tapi ada seorang bayi yang selamat, dan anehnya diselamatkan oleh istri Fir’un sendiri, lalu disetujui oleh sang suami. Dan bayi itu adalah bayi yang menjadi ancaman terhadap kekuatan fir’un

Siapa yang merubah pikiran fir’un?! Hatinya dan sikapnya?! Dialah Allah!!

Jadi.. kalau anda ikut cara yang sudah Allah tentukan, maka anda hanya tinggal menunggu sambil berdo’a, karna Allah tak pernah memungkiri janjinya

 

sumber artikel : singkarak online

Allah SWT ‘Merindukan’ Tobat Kita

0

Allah SWT tentu benci terhadap hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya. Namun sebaliknya, Allah SWT amat suka dan bergembira terhadap orang-orang yang segera bertobat dari dosa dan kemaksiatannya. Allah SWT bahkan menegaskan, bahwa ampunan-Nya bagi orang-orang yang mau bertobat adalah selalu lebih besar dari dosa-dosanya.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin Malik ra pernah bersabda, bahwa Allah SWT telah berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah sesuai dengan apa yang kamu panjatkan dan harapkan kepada Diri-Ku. Aku mengampuni kamu atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan dan Aku rela. Hai anak Adam, andai dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, lalu kamu memohon ampunan-Ku, pasti Aku mengampuni kamu. Hai anak Adam, sesungguhnya kamu, andai kamu mendatangi Aku dengan memikul dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian kamu menjumpai Aku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku akan mendatangi kamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR at-Tirmidzi, hadishasan-shahih).

Dalam nada yang sama, Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Dzarr ra, bahwa Allah SWT telah berfirman, “Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sedepa, Aku mendekat kepadanya sejengkal. Siapa saja yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari. Siapa saja yang menjumpai-Ku dengan memikul dosa sepenuh bumi—selama dia tidak menyekutukan Aku dengan apapun—maka aku akan menjumpainya dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HR Muslim).

Anas juga berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, andai kalian berbuat dosa hingga dosa-dosa kalian memenuhi langit dan bumi, kemudian kalian memohon ampunan kepada Allah, maka pasti Allah mengampuni kalian.’” (HR Ahmad).

Abu Hurairah rajuga menuturkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jala, saat menciptakan makhluk, Dia menuliskan pada makhkuk itu di atas ‘Arsy-nya: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR Muslim).

Karena itulah Rasulullah SAW memberikan petunjuknya secara berulang kepada manusia untuk segara bertobat dari dosa-dosa. Ampunan Allah SWT kepada mereka merupakan rahmat-Nya kepada mereka. Di antara petunjuk Rasulullah SAW tersebut adalah sabdanya, sebagaimana dituturkan oleh Abu Dzarr bahwa Allah SWT telah berfirman, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan malam dan siang hari, sementara Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Karena itu, minta ampunlah kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR Muslim).

Abu Hurairah menuturkan dari Rasulullah SAW kisah dari penuturan Allah SWT sendiri yang berfirman,“Hamba-Ku berbuat suatu dosa. Ia lalu berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku atas dosa-dosaku.” Allah SWT berfirman, ‘Hamba-Ku berbuat suatu dosa dan dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dan menghapus dosa-dosa.’ Lalu dia kembali berbuat dosa. Kemudian ia pun kembali berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku atas dosa-dosaku.’” Allah SWT berfirman, “Hamba-Ku berbuat suatu dosa dan dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dan menghapus dosa-dosa. Lakukanlah apa pun sekehendak kamu maka sesungguhnya Aku pasti mengampunimu.” (HR Muslim).

Karena itulah, Rasulullah SAW menyuruh kita untuk banyak bertobat kepada Allah SWT, sebagaimana sabdanya, “Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah SWT dan mintalah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR Muslim).

Tentu, Rasul bertobat bukan karena dosa-dosanya, karena beliau terpelihara dari dosa-dosa. Tobat beliau tidak lain merupakan bentuk makrifat beliau kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW juga bersabda, sebagaimana penuturan Abu Musa al-Asy’ari, “Sesungguhnya Allah melapangkan tangannya pada malam hari untuk menerima tobat pelaku kemaksiatan pada siang harinya dan melapangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat pelaku kemaksiatan pada malam harinya.”(HR Muslim).

Rasulullah SAW, sebagaimana penuturan Abu Hurairah ra juga berkata, “Siapa saja yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, Allah pasti menerima tobatnya.” (HR Muslim).

Selain itu, sesungguhnya dosa yang diiringi dengan istighfar akan menambah makrifat kepada Allah, pengakuan atas penghambaan kepada-Nya dan menambah upaya merendahkan diri di hadapan-Nya. Hal demikian lebih Allah cintai daripada ketaatan yang diiringi dengan sikap ujub dan lalai.

Alhasil, di penghujung tahun ini, dan dalam rangka menyongsong awal tahun depan, marilah kita segera bertobat, dengan tawbatan nashuha. Sesungguhnya Allah SWT akan selalu ‘merindukan’ tobat kita. [] abi

Sumber Artikel: mediaumat.com

 

Luasnya Ampunan Allah SWT

0

Dalam kehidupan ini kita selaku manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Entah sudah berapa banyak kita melakukan perbuatan dosa. Jika dihitung dan dicatat perbuatan dosa kita setiap hari dalam sebulan mungkin kita akan mendapatkan catatan  dosa kita setebal kamus. Atau mungkin berjilid-jilid banyaknya. Bayangkanlah! Berapa banyak dosa yang kita perbuat selama hidup kita? Lalu bagaimana kita akan menemui Sang Pencipta dengan berlumur dosa?

Memang sudah menjadi fitrah manusia untuk berbuat kesalahan.  Hal ini telah disabdakan oleh nabi Muhammad SAW, “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah mereka yang bertaubat”. (HR.Tirmidzi). Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, walaupun manusia berbuat dosa. Tidak lantas menjadikan manusia merugi begitu saja. Bagi mereka yang mau bertaubat itulah yang terbaik untuk mereka.

Bahkan dalam hadis lain disebutkan jika seluruh umat manusia tidak ada yang berbuat dosa. Maka Allah SWT menggantinya dengan umat yang berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampunan dan Allah SWT mengampuninya. “Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka beristighfar dan Allah SWT mengampuni mereka”.( HR.Muslim). Hal ini mempertegas akan fitrah manusia dalam berbuat dosa.

Ketahuilah! Murka Allah SWT itu sangat dasyat. Siksaan Allah sangat pedih. Akan tetapi kasih sayang-Nya meliputi alam semesta. Ampunan Allah SWT  sangat teramat luas bagi hambanya yang mau bertaubat. Selama dosa itu bukan menyekutukan Allah SWT maka Allah akan mengampuni dosa itu sebasar apapun dosa itu.

Anas bin Malik berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesunggunya Allah berfirman, Wahai anak Adam, apabila engkau memohon dan mengharapkan pertolongan-Ku maka Aku akan mengampunim dan Aku tidak menganggap bahawa ia suatu beban. Wahai anak Adam, sekalipun dosa kamu seperti awan meliputi langit kemudian kamu memohon ampunan-Ku, niscaya aku akan mengampuninya. Wahai anak Adam, jika kamu menemuiku dengan kesalahan sebesar bumi, kemudian kamu menemuiku tidak dalam keadaan syirik kepada-Ku dengan seuatu apapun. Niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan dosa sebesar bumi itu. (HR Tirmidzi)

Tidak sedikit ayat-ayat dalam Alquran yang menyebutkan bahwa Allah SWT Maha Penerima taubat diiringi dengan sifatnya yang Maha Penyayang. Di antaranya dalam surat An Nur ayat 24, surat At Thaqobun ayat 14 dan surat Az Zumar ayat 53. Ini menunjukan betapa besarnya kecintaan Allah SWT terhadap manusia terlebih terhadap hamba-Nya yang bertaubat. Yang menyesali kesalahnnya dan memohon ampunan kepada-Nya.

Oleh karena itu sudah seharusnya kita tidak boleh berputus asa. Ampunan dan rahmat Allah SWT sangatlah teramat besar. Bahkan Allah SWT telah memaklumi akan sifat kita selaku manusia yang suka berlebih-lebihan. Allah SWT berfirman, “Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53).

Betapa mudahnya mendapat ampunan Allah SWT. Masihkan kita mengingkari kasih sayang Allah SWT ? Hanya orang-orang merugi yang tidak bersegera kepada ampunan Allah SWT yang sangat teramat luas. Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menyalahi akan janji-Nya (Q.S Ali Imran [3] : 9). Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang kini tengah menimba ilmu di Kairo, Mesir.
Sumber : RO-Agustina NA.
Gambar : Int-Frd, jerry

sumber artikel : mihrabqolby

Doa Istighfar Penghapus Doa Terbesar

0

Oleh: Badrul Tamam

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Asataghfirullaah Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi

“Aku mohon ampun dan bertaubat kepada Allah yang tiada tuhan (berhak disembah) kecuali hanya Dia, Dzat Maha hidup kekal dan berdiri sendiri”

Sumber Doa

Dari Zaid bin Haritsah –maula Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam– berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ

“Siapa yang membaca Asataghfirullaah Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi maka akan diampuni dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, al-Thabrani, Al-Hakim dan Ibnu Abi Syaibah.  Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah di Shahih Abi Dawud dan Shahih al-Tirmidzi)

Terdapat tambahan dalam sebagian riwayat –seperti dalam Sunan Al-Tirmidzi & al-Hakim-, “Astaghfirullah Al-‘Adzim”.

Tempat Khusus Membacanya?

Telah datang beberapa riwayat yang menerangkan tempat khusus untuk membaca doa istighfar ini, seperti sesudah shalat, bangun tidur, dan di pagi hari Jum’at.  Namun tak satupun dari keterangan-keterangan tersebut yang shahih sehingga tidak bisa diamalkan dengan kekhususannya tersebut.

Ada hadits yang berstatus maqbul –sebagian ulama menghasankannya dan sebagian lain menshahihkannya- menyebutkan istighfar tersebut tanpa mengaitkannya dengan waktu-waktu tertentu. Bisa dibaca pada waktu yang bebas tanpa mengkhususkannya dengan waktu dan tempat.

Al-Hakim mengeluarkannya dalam Mustadraknya dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلَاثًا غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَارًّا مِنْ الزَّحْفِ

“Siapa yang membaca Asataghfirullaah Alladzii Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi maka diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Al-Hakim, beliau berkata: “ini adalah hadits shahih sesuai syarat Muslim namun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 8541. Abu Nu’aim meriwayatkan yang serupa dalam Akhbar Ashbahan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)

Keutamaannya

Doa ini mengandung istighfar (permohonan ampunan) yang sangat agung dan memakai wasilah (sarana) yang sangat mulia dengan menyebut nama-nama Allah yang Maha Indah –Allah, Al-Adzim, Al-Hayyu, dan Al-Qayyum-, ikrar akan uluhiyah Allah dan tekad bertaubat saat itu juga.

Astaghfirullah memiliki makna meminta ampunan kepada Allah, memohon agar Allah menutupi dosa-dosanya, dan tidak menghukumnya atas dosa-dosa tersebut.

Disebut kalimat tauhid setelah kalimat “Aku meminta ampun kepada Allah” memberikan makna bahwa hamba tersebut mengakui kewajibannya untuk ibadah kepada Allah semata yang itu menjadi hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini menuntut agar orang yang beristighfar untuk membuktikan ubudiyahnya kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Al-Hayyul Qayyum: dua nama Allah yang agung ini disebut sesudahnya memiliki kaitan dengan permintaan ampunan karena semua nama Allah dan sifat-Nya yang Maha tinggi yang Dzatiyah dan Fi’liyah kembali kepada keduanya. Sifat Dzatiyah merujuk kepada nama Al-Hayyu (Maha hidup kekal). Sedangkan sifat fi’liyah kembali kepada nama Al-Qayyum (Tegak berdiri sendiri dan mengurusi semua makhluk-Nya)

Ditutup doa tersebut dengan Waatubu Ilaihi (Aku bertaubat kepada-Nya) mengandung keinginan kuat dari hamba untuk bertaubat (kembali) kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Karenanya jika hamba mengucapkan kalimat ini hendaknya ia jujur dalam melafadzkannya pada dzahir & batinnya. Jika ia dusta, dikhawatirkan ia tertimpa kemurkaan Allah. (Lihat al-Fuuthaat al-Rabbaniyah: 3/701)

Allah siapkan balasan terbaik untuknya, yakni ampunan untuknya sehingga dihapuskan dosa-dosanya, ditutupi aib-aibnya, dilapangkan rizkinya, dijaga fisiknya, dipelihara hartanya, mendapat kucuran barakah, semakin meningkat kualitas agamanya, menjapatkan jaminan keamanan di dunia dan akhirat, dan mendapat keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dosa yang akan diampuni dengan doa istighfar ini bukan hanya dosa-dosa kecil, tapi juga dosa besar. Bahkan dosa yang terkategori min akbaril dzunub (dosa paling besar), yaitu lari dari medan perang, “. . .  walaupun ia pernah lari dari medan perang.”

Lari dari medan perang adalah lari meninggalkan medan jihad fi sabilillah saat berkecamuk peperangan melawan orang kafir. Ini menunjukkan bahwa melalui doa istighfar yang agung ini Allah akan mengampuni dosa-dosa terbesar yang tidak memiliki konsekuensi hukuman jiwa dan harta seperti lari dari medan perang dan dosa-dosa semisalnya. Jika hamba mengucapkan doa di atas dengan ikhlash, jujur, memahami makna-maknanya; niscaya ia akan mendapatkan kabar gembira maghfirah yang agung ini.

Penutup

Setiap diri kita dipenuhi dosa dan kesalahan; bisa berupa tidak menunaikan kesyukuran, tidak menunaikan perintahnya, tidak meninggalkan larangan-Nya, menyia-nyiakan kesempatan yang dibeirkan-Nya, lalai dari mengingat-Nya, dan sebagainya. Dosa-dosa tersebut akan membuat sesak dada, menghilangkan keberkahan hidup, mempersempit rizki, membuat berat menjalankan ketaatan, menjadi sebab datangnya berbagai kesulitan, dan di akhirat menjadi sebab kegelapan dan kesengsaraan. Karenanya setiap kita membutuhkan ampunan Allah setiap saat. Doa istighfar ini menjadi salah satu alternatif dan saranan meraih ampunan-Nya. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

sumber artikel :voa-islam.com

AMPUNAN ALLAH

0
laki-laki.tilawah(inet)

Jangan sekali-kali berputus asa dari dosa, karena pintu taubat selalu terbuka dan tidak ada pemberi syafaat yang yang lebih berhasil daripada taubat. Pemberi syafaat bagi orang yang berdosa adalah pengakuan dosa itu sendiri, sedangkan taubatnya adalah memohon ampunan-Nya. Sungguh mengherankan orang yang celaka, padahal keselamatan itu ada bersamanya (Istighfar).

Istighfar menggugurkan dosa seperti gugurnya dedaunan. Istighfar adalah derajat orang yang tinggi kedudukannya, dan adalah nama yang berlaku pada enam makna yaitu, penyesalan bagi yang telah lalu bertekad untuk tidak kembali pada perbuatan dosa, mengembalikan hak orang lain yang telah diambilnya dengan bathil, memperhatikan setiap kewajiban yang dilalaikan dimasa lalu, memperhatikan daging yang telah tumbuh dari hasil yang yang haram, rasakan pada tubuh sakitnya ketaatan sebagaimana telah merasakan manisnya kemaksiatan. (Ali bin Abi Thalib r.a)

Rasulullah Saw bersabda: Ketika Allah SWT selesai mencipta makhluk, Allah menulis dalam kitab-Nya, Dia menulis untuk Dzat-Nya sendiri dan kitab itu diletakkan disisi-Nya diatas Arasy dan isi tulisan-Nya adalah: Sesungguhnya Rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku [HR. Bukhari]

Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah lebih gembira atas taubatnya seorang hamba daripada orang yang kehausan lalu menemukan air, dan lebih gembira dari wanita mandul yang dapat melahirkan anak, dan lebih gembira dari orang yang kehilangan barang lalu menemukannya. Barangsiapa bertaubat kepada Allah dengan taubat yang murni, maka Allah melupakan dua malaikat pencatat amalnya, semua anggota tubuhnya, dan tempat-tempat ia melakukan dosa, sehingga semuanya tidak dapat menjadi saksi bagi kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang telah dikerjakannya [HR. Abu Abbas]

Rasulullah Saw bersabda: Allah SWT Berfirman: Bila hamba-Ku senang bertemu Aku, maka Aku sangat senang bertemu hamba-Ku, dan bila hamba-Ku tidak senang bertemu dengan Aku, maka Aku-pun tidak senang bertemu dengan hamba-Ku [HR. Bukhari]

Rasulullah Saw bersabda: Apabila kalian mampu memperbanyak istighfar, maka lakukanlah, karena sesungguhnya tiada suatu amalanpun yang lebih berhasil disisi Allah SWT dan lebih disukai oleh-Nya selain istighfar (memohon ampun) [HR. Al Hakim]

Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah yang Maha Gagah dan Maha Mulia, sungguh mengangkat derajat (maqom) hamba yang saleh di Surga. Maka hamba yang saleh bertanya: Wahai Tuhan, darimana saya memperoleh ini?. Tuhan menjawab: Dengan istighfar anakmu untukmu [HR. Ahmad]

Rasulullah Saw bersabda: Tidaklah seorang hamba Allah, baik pria maupun wanita yang ber-istighfar tujuh puluh kali sehari melainkan Allah mengampuni tujuh ratus dosa-dosanya. Dan sesungguhnya sia-sialah hamba Allah, baik pria maupun wanita yang dalam sehari semalam berbuat dosa lebih dari tujuh ratus kali [HR. Baihaqi]

Rasulullah Saw bersabda: Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa,  sama  dengan   orang yang  tidak mempunyai dosa dan orang yang meminta ampunan dari perbuatan dosa sedangkan ia masih tetap menjalankannya sama dengan orang yang mengejek Rabb-nya [HR. Baihaqi].

Ibrahim berkata: tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat [15:Al Hijr:56]

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat [11:Huud:3]

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (*)Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar [05:Al Maaidah:8~9]

Kemudian, sesungguhnya  Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [16:An Nahl:119]

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [004-An Nisaa’:47]

`Orang-orang yang mengenal Allah dengan baik, sepakat bahwa ketika anda sesat maka Allah menyerahkan segalanya kepada anda dan membiarkan apa yang terjadi diantara anda dan jiwa anda. Tetapi ketika anda benar maka Allah akan selalu menuntun(Ibnul Qayyim Al–Jauziyah). Seorang hamba itu selalu berada diantara sesat dan benar. Bahkan dalam satu jam seorang hamba bisa berada dalam keadaan kedua-duanya. Hamba yang taat dan membuat-Nya ridho, maka Allah-pun berterima kasih kepada hamba-Nya dengan dengan cara menurunkan pertolongan-Nya.

Sebaliknya, kepada hamba yang durhaka dan menentang-Nya, maka Allah marah dan mengabaikan dan membiarkannya. Ketika hamba mampu mencerna semua ini dan memberikan hak Allah sesuai porsinya, maka ia akan memahami betapa ia sangat membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap hembusan nafasnya, setiap detik dan setiap kerdipan mata.

Hamba juga akan memahami bahwa keimanan dan tauhidnya ada ditangan Allah. Seandainya Allah membiarkannya sekejap saja maka singgasana tauhidnya akan roboh dan langit keimanannya akan runtuh menimpa bumi. Hamba juga akan memahami bahwa Dzat yang melindungi keimanannya adalah Dzat yang menjaga langit supaya tidak runtuh jatuh menimpa bumi, kecuali dengan seizin-Nya.

`Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,  dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai`(71:Nuh:10~12). `Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah akan memberikan jalan keluar untuk setiap kecemasan dan akan membukakan pintu keluar dari setiap kesempitan(Al Hadits). Salah satu sebab ketenangan hati dan pikiran adalah beristighfar kepada Dzat yang memiliki keagungan. Banyak hal yang dianggap berbahaya justru mendatangkan manfaat. Setiap qadha pada dasarnya baik, walau terkadang dimulai dengan kemaksiatan yaitu kemaksiatan yang dibarengi dengan taubat dan penyesalan dan kesadaran. `Allah tidak memberlakukan sebuah qadha kepada hamba-Nya kecuali itu menjadi sebuah kebaikan baginya`(Al Hadits). `Tahun-tahun berlalu bersama kebahagiaan dan kesenangannya ; Karena telalu singkatnya, tahun-tahun itu seperti hitungan hari ; Kemudian datang hari-hari susah ; Seakan-akan hari-hari itu tahun-tahun yang lama karena panjangnya ; Kemudian masa-masa itu lenyap bersama dengan manusia ; Masa-masa itu dan manusia-manusia itu tak ubahnya mimpi` (Abu Tamam).  (`Aidh Al-Qarni)

Siapapun yang berada ditempat tidurnya, hisablah dirimu atas apa yang dilakukan hari ini, apabila telah melakukan perbuatan baik, maka harus bersyukur dan memuji Allah atas karunia-Nya, dan apabila telah berbuat buruk, maka bersegeralah memohon ampunan kepada-Nya, dan jika lalai dalam ampunan, maka dapat di ibaratkan sebagai pedagang yang membelanjakan harta tanpa pernah menghitungnya, sehingga akan bangkrut tanpa disadarinya.  (Pustaka)

Raih dan capailah pintu taubat selama pintu itu terbuka bagimu, karena dalam waktu dekat pintu itu akan tertutup. Raihlah kebaikan selama mampu melakukannya dan masuklah kedalamnya dengan membawa hati yang bertaubat, kemudian berlarilah kepintu doamu karena pintu itu ada untukmu. Janganlah putus asa dari rahmat Allah, karena sesuatu yang sedikit namun mencukupi, itu lebih baik daripada sesuatu yang banyak tetapi melalaikannya. Itulah bukti bahwa kebaikan tidak akan rusak dan dosa tidak akan dilupakan. (Pustaka)

Jangan lalai dari memohon ampunan setiap saat kepada Allah, dimana kezaliman yang tidak diampuni Allah adalah syirik, kezaliman yang tidak akan dibiarkan tanpa ditanyai adalah kezaliman yang dilakukan terhadap hamba Allah lainnya dan kezaliman yang diampuni tanpa ditanyai adalah kezaliman atas dirinya sendiri dengan dosa-dosa kecilnya. (Pustaka)

Mohonlah ampunan-Nya dan memohonlah dengan penuh kerendahan diri dihadapan-Nya. Carilah sebab musabab mengapa kita tidak sanggup melaksanakan perintah-Nya. Mungkin saja kita tidak sanggup melaksanakan perintah itu karena berprasangka buruk kepada-Nya atau kita terlalu bangga kepada diri kita sendiri atau kita terlalu yakin pada daya dan upaya diri kita sendiri, yang berarti kita telah menyekutukan-Nya dengan daya upaya diri kita. (Pustaka)

Apakah orang-orang yang masih muda menunggu hingga bungkuk dihari tua, dan orang-orang yang menikmati tubuh sehatnya menunggu hingga sakit-sakitan dan orang-orang yang masih hidup menunggu hingga saat kematian dan apabila waktu itu tiba, para kerabat hanya dapat menolong mengubah posisi tubuhnya dipembaringannya, dapatkah saat itu sanak saudara menghentikan kematian?, atau dapatkah para wanita yang berkabung membawa perbaikan?, bahkan jasad akan ditinggalkan sendiri terkurung diliang yang terbatas pada sudut sempit dan pada waktunya seluruh kulit dirobek-robek oleh serangga bumi, tubuh yang bugar hancur dan membusuk, tulang-tulang telah menjadi lapuk, roh terbebani oleh beratnya dosa, maka amal baik tidak dapat ditambah dan kejahatan tidak dapat ditebus kembali dengan bertaubat. (Pustaka)

Bukankah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi didalam dada semua manusia dialam ini?, apakah engkau tidak malu kepada Allah?, lisanmu ber-taubat tetapi hatimu ingkar kepada-Nya. Janganlah menipu kemurahan hati Allah, karena siksa-Nya amat pedih. Jangan samakan ulama yang bodoh dengan Allah, mereka hanya pandai dengan hukum Allah, tetapi tidak mengerti akan Allah. Mereka memerintahkan manusia sementara mereka tidak melakukannya, mereka mencegah manusia tetapi tidak mencegah dirinya sendiri, mereka hanya menampakkan kedurhakaan dan kesalahan-kesalahan manusia-manusia lain. (Pustaka)

Jika penyembahanmu dilampiri dengan taubatmu, maka Allah akan mencintaimu dan mengokohkan kecintaan-Nya dihatimu, mendekatkanmu dengan-Nya tanpa kesulitan dan Allah menyiapkan sahabat-sahabat yang terbaik bagimu (Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin), sehingga engkau menjadi orang yang diridhoi-Nya dalam segala keadaan. Kendati bumi serasa sempit bagimu, maka Allah akan melapangkannya bagimu. Walau semua pintu terkunci bagimu, kalau engkau bersabar dan engkau tidak marah kepada-Nya, maka engkaulah orang yang paling beruntung disisi-Nya. (Pustaka)

Akuilah kekurangan kita dihadapan-Nya maka Dia akan menolong kita dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaan kita dihadapan-Nya maka Dia akan menolong kita dengan kemuliaan-Nya. Akuilah kelalaian kita dihadapan-Nya maka Dia akan menolong kita dengan ampunan-Nya. Akuilah kelemahan kita dihadapan-Nya maka Dia akan menolong kita dengan daya dan kekuatan-Nya. (Pustaka)

Engkau tidak diciptakan hanya untuk permainan dan engkau tidak diciptakan hanya untuk makan, minum, tidur dan memenuhi nafsu syahwat. Bangkitlah wahai pelalai kewajiban, arahkan hati dengan melangkah kepada-Nya maka cinta-Nya akan melangkah kearahmu, pertemuanNya denganmu sangat menggembirakan-Nya dan kegembiraan-Nya lebih gembira dari orang yang kehilangan sesuatu kemudian menemukannya, lebih gembira dari orang yang kehausan yang menemukan air minum dan lebih gembira dari seorang wanita yang mandul yang dapat melahirkan anak. (Pustaka)

Sumber Artikel : ibh3.wordpress.com

Istighfar

0

Istighfar adalah: meminta ampunan. Atau menghapus dosa dan menghilangkan bekasnya, serta menjaga dari keburukannya. Ibnu Qayyim berkata: hakikat maghfirah adalah: menjaga keburukan dosa. Di antaranya adalah: mighfar: yaitu alat yang menjaga kepala dari kecelakaan [Madarij Salikin juz 1 / 308]. Ampunan itu hanya diminta kepada Allah SWT saja, karena di antara nama-Nya adalah “al Ghafuur”, “al Ghaffaar”, serta “Ghaafir adz Dzanb”. Dan di antara sifat-sifat Allah SWT adalah:

“Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” [QS. az-Zumar: 53]

Al Quran menyampaikan kepada kita bahwa Rasul-rasul Allah yang diutus kepada bangsa-bangsa diprintahkan untuk beristighfar. Secara sendiri atau bersamaan. Seperti disebutkan al Quran tentang Nuh dan dakwahnya kepada kaumnya:

“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun- , niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [QS. Nuh: 10-12]

Dan seperti Allah SWT menyebutkan tentang Huud dan dakwahnya kepada kaum Aad, yaitu ia berkata:

“Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu.” [QS. Huud: 52]

Juga Nabi Shaleh yang mengajak kaum Tsamud:

“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).” [QS. Huud: 61]

Demuikian juga Syu’aib kepada kaum Ahli Madyan:

“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Penyasih.” [QS. Huud: 90]

Dan Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya yang penutup; Muhammad Saw:

“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” [QS. Fush-shilat: 6]

Istighfar yang hakiki juga mengandung taubat. Sebagaimana taubat juga mengandung istighfar. Dan keduanya mewakili yang lain ketika disebut secara terpisah.

Sedang jika disebutkan secara tersendiri dalam sebuah redaksi, seperti dalaam redaksi: “Dan mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya”, maka istighfar di situ bermakna: meminta perlindungan dari kejahatan akibat dosa yang telah dilakukannya. Sedangkan taubat bermakna: kembali dan meminta perlindungan dari kejahatan yang mungkin terjadi aqkibat perbuatan-perbuatannya yang buruk.

Imam Ibnu Qayyim berkata: di sini ada dua dosa. Dosa yang telah lampau, istighfar darinya bermakna: meminta perlindungan dari kejahatannya, serta dosa yang ia takutkan akan terjadi. Sedangkan taubat darinya bermakna: bertekad untuk tidak mengerjakannya lagi. Sedangkan kembali kepada Allah SWT mencakup dua jenis: kembali kepada-Nya untuk menjaga diri dari kejahatan akibat perbuatan yang telah dikerjakannya. Serta kembali kepada-Nya untuk menjaga diri dari kejahatan dirinya serta perbuatan buruknya di masa mendatang.

Istighfar di sini juga usaha untuk menghilangkan bahaya. Sedangkan taubat adalah meminta manfaaat yang dapat diraih. Maghfirah adalah: agar ia dijaga dari bahaya kejahatan dosanya. Sedangkan taubat adalah agar setelah ia dijaga dari kejahatan itu ia mendapatkan apa yang ia senangi. Dan keduanya mengandung yang lain jika disebut secara terpisah. [Madaarij Salikin: 1/ 308, 309].

Kebutuhan manusia akan maghfirah Allah SWT adalah kebutuhan pokok. Karena nikmat-nikmat Allah SWT yang dicurahkan kepadanya tidak terhitung. Sementara kekurangannya dalam menjalankan hak Allah SWT tidak dapat diingkari pula. Maka jika ada manusia yang berkata: aku telah menjalankan hak Allah SWT seluruhnya, dan tidak sedikitpun aku kurang menjalankan hak itu, maka perkataannya itu sendiri adalah sebuah dosa. Karena itu adalah jelas-jelas kesombongan dan bangga dengan diri sendiri. Oleh karena itu, seluruh manusia membutuhkan maghfirah. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

“Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” [QS. Ali Imran: 133].

Di sini kecepatan dituntut dalam meminta maghfirah sebelum meminta surga. Ayat yang sejenis adalah firman Allah SWT:

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” [QS. al Hadid: 21].

Dan firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” [QS. ash-Shaff: 10-12]

Keuntungan perdagangan mereka adalah maghfirah itu. Kemudian mereka dimasukkan ke dalam surga.

Dari kebutuhan manusia akan maghfirah itu, tumbuh kebutuhannya akan istihgfar. Dan ia tidak pernah bebas dari kebutuhan ini, malam atau siang. Seperti ia tidak dapat membebaskan dirinya dari kebutuhan akan makanan dan minuman. Seperti difirmankan Allah SWT dalam hadits qudsi yang terkenal yang diriwayatkan oleh Nabi Saw dari Rabbnya Azza wa Jalla:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan dosa pada malam dan siang hari, dan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka mintalah ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni kalian.” [Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abi Dzar]

Dan sabda Rasulullah Saw:

“Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam kekuasan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan menghapuskan kalian dari muka bumi dan mendatangkan makhluk lain yang melakukan dosa kemudian meminta ampunan kepada Allah SWT dan Allah SWT pun mengampuni mereka.” [Hadits diriwaytkan oleh Ahmad dan Muslim dari Abi Hurairah. Sahih Jami’ Shagir (7074)]

Oleh karena itu, al Quran menyifati hamba-hamba Allah yang baik sebagai orang-orang yang beristighfar kepada Allah SWT, terutama pada waktu menjelang subuh, serta saat sedang jatuh dalam dosa.

Allah SWT mensifati orang yang bertakwa yang berhak mendapatkan surga dan keridhaan-Nya sebagai berikut:

“Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikarunia) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka”, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, dan tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” [QS. Ali Imran: 15-17]

Dalam surah yang sama Allah SWT membicarakan kepada kita tentang kaum Rabbani yang sebagian mereka telah terbunuh di jalan Allah SWT. Namun mereka tidak melemah karena mengalami kematian, serta mereka tidak menjadi malas karenanya. Firman Allah SWT:

“Tidak ada do’a mereka sekalian ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir [QS. Ali Imran: 147]

Sebelum mereka meminta kekuatan dan kemenangan kepada Allah SWT , mereka meminta maghfirah dari dosa-dosa dan sikap berlebihan mereka dalam kehidupan. Dalam hal ini mereka menuduh diri mereka sendiri dengan perlakuan dan tindakan yang berlebihan, bukan menuduh Allah SWT bahwa Dia mengecewakan dan tidak menolong mereka!

Dalam surah itu pula terdapat pembicaraan tentang “ulul albab”, yaitu mereka berdo’a kepada Allah SWT dengan beberapa do’a. Di antaranya adalah:

“Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” [QS. Ali Imran: 193.]

Dalam surah yang lain, Allah SWT memuji kaum muttaqin yang berbuat baik dari sekalian wali-wali Allah SWT. Firman Allah SWT:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” [QS. adz-Dzariat: 15-18].

Al Hasan berkata: mereka beramal pada malam hari, dan hanya tidur sedikit dari malam itu, itu mereka lakukan hingga menjelang subuh, dan pada saat itu mereka melakukan istighfar.

Alangkah anehnya! Mereka mengisi malam dengan ibadah dan shalat, kemudian pada menjelang subuh mereka beristighfar! Seakan mereka masih merasa kekurangan dan kesalahan diri mereka.

Ibnu Katsir berkata: terdapat dalam hadits-hadits sahih dari beberapa orang shabat dari Rasulullah Saw bahwa beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah SWT turun pada tiap malam ke langit dunia, hingga sepertiga malam yang terakhir, dan berfirman: Apakah ada orang yang meminta taubat hingga Aku berikan taubat kepadanya? Apakah ada yang meminta ampunan hingga Aku berikan ampunan kepadanya? Apakah ada orang yang meminta hingga aku kabulkan permintaannya? Hingga datang fajar”.

sumber artikel : isnet.org

Istighfar dan Taubat sebagai Salah Satu Kunci Dibukanya Pintu Rezeki

0
pergaulan.laki.laki.dan.perempuan(kawanimut)

“Barangsiapa yg bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yg tiada disangka-sangkanya.” . Hal yg paling penting dalam perhatian sebagian besar manusia adl masalah rezeki. Menurut pengamatan sejumlah umat Islam memandang bahwa berpegang dgn Islam akan mengurangi rezeki mereka. Tidak hanya sebatas itu bahkan lbh parah dan menyedihkan lagi bahwa ada sejumlah orang yg masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan dibidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari sebagian hukum-hukum Islam terutama yg berkenaan dgn halal dan haram. Benarkah demikian? Mereka itu lupa atau pura-pura lupa bahwa Sang Khaliq tidaklah menyariatkan agama-Nya hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara-perkara akhirat dan kebahagiaan mereka di sana saja. Tetapi Allah menyariatkan agama ini juga utk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia. Bahkan doa yg sering dipanjatkan Nabi kita kekasih Tuhan Semesta Alam yg dijadikan-Nya sebagai teladan bagi umat manusia adalah “Wahai Tuhan kami karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka.” Allah dan rasul-Nya tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam kegelapan berada dalam keraguan dalam usahanya mencari penghidupan. Tetapi sebaliknya sebab-sebab rezeki itu telah diatur dan dijelaskan. Seandainya umat ini mau memahaminya menyadarinya berpegang teguh dengannya serta menggunakan sebab-sebab itu dgn baik niscaya Allah Yang Maha Pemberi rezeki dan memiliki kekuatan akan memudahkannya mencapai jalan-jalan utk mendapatkan rezeki dari tiap arah serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi. Di antara sebab terpenting diturunkannya rezeki adl istighfar dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi . Untuk itu pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan

Hakikat istighfar dan taubat.
Dalil syar’i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci rezeki.
Hakikat Istighfar dan Taubat Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dgn lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan “Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” Tetapi kalimat itu tidak membekas di dalam hati juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adl perbuatan orang-orang dusta. Para ulama semoga Allah memberi balasan yg sebaik-baiknya kepada mereka telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat. Imam ar-Raghib al-Ashfahani menerangkan “Dalam istilah syara’ taubat adl meninggalkan dosa krn keburukannya menyesali dosa yg telah dilakukan berkeinginan kuat utk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yg bisa diulangi . Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna.” Imam an-Nawawi dgn redaksionalnya sendiri menjelaskan “Para ulama berkata ‘Bertaubat dari tiap dosa hukumnya adl wajib. Jika maksiat itu antara hamba dgn Allah yg tidak ada sangkut pautnya dgn hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua ia harus menyesali perbuatan nya. Ketiga ia harus berkeinginan utk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang maka taubatnya tidak sah. Jika taubat itu berkaitan dgn manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat seperti di atas dan keempat hendaknya ia membebaskan diri hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan utk membalasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah maka ia harus meminta maaf.” Adapun istighfar sebagaimana diterangkan Imam ar-Raghib al-Ashfahani adl “Meminta dgn ucapan dan perbuatan. Allah SWT berfirman “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” . Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dgn lisan semata tetapi dgn lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan memohon ampun hanya dgn lisan saja tanpa disertai perbuatan adl pekerjaan para pendusta.

Dalil Syar’i bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rezeki Beberapa nash Alquran dan hadis menunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rezeki dgn karunia Allah. Di bawah ini beberapa nash dimaksud

Apa yg disebutkan Allah tentang Nuh yg berkata kepada kaumnya “Maka aku katakan kepada mereka ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’ sesungguhnya Dia adl Maha Pengampun niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dgn lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan untukmu sungai-sungai’.” . Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut dgn istighfar.
Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan firman-Nya “Sesungguhnya Dia adl Maha Pengampun.”
Diturunkannya hujan yg lebat oleh Allah. Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu berkata “Adalah yg turun dgn deras.”
Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak. Dalam menafsirkan ayat Atha’ berkata “Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian.”
Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.
Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai.
Imam al-Qurthubi berkata “Dalam ayat ini juga disebutkan dalam adl dalil yg menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rezeki dan hujan.” Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata “Maknanya jika kalian bertaubat kepada Allah meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa menaati-Nya niscaya Ia akan membanyakkan rezeki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit mengeluarkan utk kalian berkah dari bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan utk kalian melimpahkan air susu perahan utk kalian mem-banyakkan harta dan anak-anak utk kalian menjadikan kebun-kebun yg di dalamnya bermacam-macam buah-buahan utk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu .” Demikianlah dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab juga berpegang dgn apa yg terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah. Muthrif meriwayatkan dari asy-Sya’bi “Bahwasanya Umar keluar utk memohon hujan bersama orang banyak. Beliau tidak lbh dari mengucapkan istighfar lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya “Aku tidak mendengar Anda memohon hujan.” Maka ia menjawab “Aku memohon diturunkannya hujan dgn majadih langit yg dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu beliau membaca ayat “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu sesungguhnya Dia adl Maha Pengampun niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dgn lebat.” . Imam al-Hasan al-Bashri juga menganjurkan istighfar kepada tiap orang yg mengadukan kepadanya tentang kegersangan kefakiran sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun. Imam al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih bahwasanya ia berkata “Ada seorang laki-laki mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang kegersangan maka beliau berkata kepadanya ‘Beristighfarlah kepada Allah!’ Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya ‘Beristighfarlah kepada Allah!’ Yang lain lagi berkata kepadanya ‘Doakanlah kepada Allah agar ia memberiku anak!’ Maka beliau mengatakan kepadanya ‘Beristighfarlah kepada Allah!’ Dan yg lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan kepadanya ‘Beristighfarlah kepada Allah!’ Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yg mengalami hal yg sama. Dalam riwayat lain disebutkan Maka ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya ‘Banyak orang yg mengadukan bermacam-macam dan Anda memerintahkan mereka semua utk beristighfar. Maka al-Hasan al-Bashri menjawab ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu sesungguhnya Dia adl Maha Pengampun niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dgn lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan untukmu sungai-sungai’.” . Allahu Akbar! Betapa agung besar dan banyak buah dari istighfar! Ya Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yg pandai beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus Makhluk-Nya.

Ayat lain adl firman Allah yg menceritakan tentang seruan Hud kepada kaumnya agar beristighfar. “Dan ‘Hai kaumku mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya niscaya Dia menurunkan hujan yg sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dgn berbuat dosa’.” . Al-Hafizh Ibnu katsir dalam menafsirkan ayat yg mulia di atas menyatakan “Kemudian Hud memerintahkan kaumnya utk beristighfar yg dengannya dosa-dosa yg lalu dapat dihapuskan kemudian memerintahkan mereka bertaubat utk masa yg akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini niscaya Allah akan memudahkan rezekinya melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman “Niscaya Dia menurunkan hujan yg sangat lebat atasmu.” Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yg memiliki sifat taubat dan istighfar dan mudahkanlah rezeki-rezeki kami lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ayat yg lain adl firman Allah “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. niscaya Dia akan memberi keni’matan yg baik kepadamu sampai kepada waktu yg telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yg mempunyai keutamaan keutamaannya. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” . Pada ayat yg mulia di atas terdapat janji dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan berupa keni’matan yg baik kepada orang yg beristighfar dan bertaubat. Maksud dari firman-Nya “Niscaya Dia akan memberi keni’matan yg baik kepadamu” sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah “Ia akan menganugerahi rezeki dan kelapangan kepada kalian.” Sedangkan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan “Inilah buah dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi keni’matan kepada kalian dgn berbagai manfaat berupa kelapangan rezeki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yg dilakukan-Nya terhadap orang-orang yg dibinasakan sebelum kalian. Janji Tuhan Yang Maha Mulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dgn syaratnya. Syekh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata “Ayat yg mulia tersebut menunjukkan bahwa beristighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adl sebab sehingga Allah menganugerahkan keni’matan yg baik kepada orang yg melakukannya sampai pada waktu yg ditentukan. Allah memberikan balasan atas istighfar dan taubat itu dgn balasan berdasarkan syarat yg ditetapkan.”
Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat adl di antara kunci-kunci rezeki yaitu hadis yg diriwayatkan Imam Ahmad Abu Dawud an-Nasa’i Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata Rasulullah bersabda “Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah menjadikan utk tiap kesedihannya jalan keluar dan utk tiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yg tiada disangka-sangka.” Dalam hadis yg mulia ini Nabi yg jujur dan terpercaya yg berbicara berdasarkan wahyu mengabarkan tentang tiga hasil yg dapat dipetik oleh orang yg memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu bahwa Allah Yang Maha Memberi rezeki yg Memiliki kekuatan akan memberikan rezeki dari arah yg tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya. Karena itu kepada orang yg mengharapkan rezeki hendaklah ia bersegera utk memperbanyak istighfar baik dgn ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya tiap muslim waspada sekali lagi hendaknya waspada dari melakukan istighfar hanya sebatas dgn lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adl pekerjaan para pendusta. Sumber Kunci-Kunci Rizki menurut Alquran dan as-Sunnah Dr. Fadhl Ilahi Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
sumber artikel : beritaislammasakini.com

KELUASAN AMPUNAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA YANG MAHA LUAS

0
Alqur'an.madaniwallpaper

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : (( قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً )).

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].

TAKHRIJ HADITS
Hadits shahih diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3540) dan ini lafazhnya. Tirmidzi rahimahullah berkata, “Hadits ini hasan gharib.”

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits ini hasan sebagaimana yang dikatakan oleh at-Tirmidzi. Hadits ini mempunyai syawâhid (penguat) dari hadits Abu Dzar Radhiyallahu anhu . Diriwayatkan oleh ad-Dârimi rahimahullah (II/322) dan Ahmad (V/167, 172), padanya ada rawi yang lemah. Akan tetapi hadits ini karena memiliki banyak syawahid, maka dihasankan oleh al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 127). Bahkan dalam kitab Hidâyatur Ruwât (no. 2276) ketika mengomentari hadits ini, beliau rahimahullah berkata, “Hadits ini hasan, sebagaimana dikatakan oleh at-Tirmidzi rahimahullah , dengan syahid-nya yang sudah disebutkan, bahkan hadits ini shahih, karena mempunyai dua syahid (penguat) yang lainnya. Saya sudah takhrîj di Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 128, 903, dan 195). [Lihat Hidâyatur Ruwât ila Takhrîji Ahâdîtsil Mashâbîh wal Misykât (II/447-448].

SYARAH HADITS
Tiga Syarat Mendapatkan Ampunan[1]
Hadits ini menyebutkan tiga hal untuk mendapatkan ampunan :

Pertama : Berdo’a disertai Harapan

يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ

Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli

Berdo’a disertai harapan, karena do’a diperintahkan dan dijanjikan untuk dikabulkan. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

“Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…’” [Ghâfir/40:60]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Do’a adalah ibadah.” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas.[2]

Namun do’a akan dikabulkan jika syarat-syaratnya terpenuhi dan tidak ada penghalang-penghalangnya. Terkadang pengabulan do’a tertunda karena tidak sebagian syaratnya tidak ada atau ada penghalangnya. Diantara syarat terkabulnya do’a ialah kehadiran hati dan mengharap kepada Allâh Azza wa Jalla agar dikabulkan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اُدْعُوا اللّٰـهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالْإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰـهَ تَعَالَـى لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

Berdo’alah kepada Allâh dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan ketahuilah Allâh tidak akan mengabulkan do’a dari hati yang lalai dan lengah[3].

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang berdo’a dengan lafazh :

اَللّٰـهُمَّ اغْفِرْ لِـيْ إِنْ شِئْتَ ، وَلٰكِنْ لِيَعْزِمِ الْـمَسْأَلَةَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لَا مُكْرِهَ لَهُ

“Ya Allâh, ampunilah aku jika Engkau berkehendak,” namun hendaklah ia serius dalam meminta karena Allâh tidak bisa dipaksa oleh apapun.[4]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang tergesa-gesa dalam meminta pengabulan do’a lalu meninggalkan do’a karena tidak kunjung dikabulkan. Ini termasuk salah satu penghalang terkabulnya do’a. Kita dilarang tergesa-gesa pengabulan do’a supaya tidak putus harapan terhadap pengabulan do’anya kendati memakan waktu yang cukup lama, karena Allâh Azza wa Jalla mencintai orang-orang yang penuh harap dan mendesak dalam do’anya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “…Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” [al-A’râf/7: 56]

Jadi, selagi seorang hamba mendesak dalam do’anya dan menginginkan do’anya dikabulkan tanpa memutus harapan, maka kemungkinan pengabulan do’anya semakin besar.

Di antara hal penting yang harus diminta seorang hamba kepada Rabbnya ialah memohon pengampunan terhadap dosa-dosanya atau hal lain yang berkaitan dengannya, seperti mohon agar selamat dari neraka dan masuk surga. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berdo’a dalam shalatnya memohon surga dan dijauhkan dari api Neraka, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

حَوْلَهَـا نُدَنْدِنُ

Diseputar (permasalahan) itulah kita selalu berdo’a.[5]

Diantara rahmat Allâh Azza wa Jalla kepada hamba-Nya ialah Allâh Azza wa Jalla mengalihkan kebutuhan dunia yang dimohon seorang hamba dari hamba tersebut dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, misalnya dengan menyelamatkannya dari keburukan atau pengabulannya ditunda di akhirat atau dosanya terampunkan karenanya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهِ إِثْمٌ وَلَا قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِـي الْآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَـا. قَالُوْا: إِذًا نُكْثِرُ. قَالَ: اللهُ أكْثَرُ

Tidaklah seorang Muslim berdo’a dengan do’a yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahim, melainkan Allâh pasti akan memberinya satu dari tiga hal (yaitu) dikabulkan do’anya dengan segera, atau Dia akan menyimpan do’a tersebut baginya di akhirat kelak, atau Dia akan menghindarkan darinya keburukan yang semisalnya.” Maka para Shahabat pun berkata, “Kalau begitu, kita memperbanyak (berdo’a).” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allâh lebih banyak (memberikan pahala).”[6]

Kesimpulannya, berdo’a mohon ampunan dengan mendesak disertai harapan kepada Allâh Azza wa Jalla itu menghasilkan ampunan.

Di antara faktor terpenting terampunkannya dosa ialah tidak mengharapkan pengampunan kepada selain Allâh Azza wa Jalla jika ia mengerjakan dosa. Karena ia tahu yang bisa mengampuninya dan menyiksanya dengan sebab dosa hanyalah Allâh Azza wa Jalla .

Firman Allâh Azza wa Jalla dalam hadits qudsi di atas, yang artinya, “Hai anak keturunan Adam ! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap kepada-Ku, Aku mengampuni atas apa saja (dosa) darimu dan Aku tidak peduli…”

Maksudnya, kendati dosa-dosa dan kesalahanmu amat banyak, itu semua tidak terlalu besar bagi-Ku dan Aku tidak menganggapnya banyak.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيُعْظِمِ الرَّغْبَةَ ؛ فَإِنَّهُ لَا يَتَعَاظَمُ عَلَى اللّٰـهِ شَيْءٌ

Jika salah seorang dari kalian berdo’a, maka hendaklah ia memperbesarkan keinginannya karena tidak ada satupun yang sulit dan besar bagi Allâh[7]

Kendati dosa-dosa seorang hamba itu besar, namun maaf dan ampunan Allâh lebih besar daripada dosa-dosa tersebut. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allâh. Sesugguhnya Allâh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [az-Zumar/39:53]

Kedua : Senantiasa istighfâr

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ.

Hai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli

Istighfâr ialah meminta maghfirah (ampunan) sementara maghfirah adalah perlindungan dari pengaruh buruk dosa-dosa.

Istighfâr banyak sekali disebutkan dalam al-Qur’ân, terkadang diperintahkan, terkadang Allâh memuji orang yang beristighfâr dan terkadang Allâh menyebutkan bahwa Dia mengampuni orang yang beristighfâr. Dan terbanyak Allâh menyebutkan istighfâr diiringi dengan taubat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “…Dan mohonlah ampunan kepada Allâh. Sungguh, Allâh Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [al-Baqarah/2:199]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Rabb-mu dan bertaubat kepada-Nya…” [Hûd/11:3]

Terkadang Allâh Azza wa Jalla memuji orang-orang yang beristighfâr, misalnya dalam firman-Nya,

وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“…Dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.” [Ali ‘Imrân/3:17]

Terkadang al-Qur’ân menyebutkan bahwa Allâh mengampuni orang-orang yang beristighfâr kepada-Nya, seperti dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan (kepada Allâh), niscaya dia akan mendapatkan Allâh Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [an-Nisâ’/4:110]

Seringkali kata istighfâr disebutkan beriringan dengan kata taubat. Ketika kedua kata ini beriringan, maka istighfâr itu artinya permohonan ampun dengan lisan, sedangkan taubat artinya berhenti dari dosa-dosa dengan hati dan seluruh organ tubuh.

Syarat-syarat taubat menurut para Ulama :
1. Berhenti dari semua dosa dan maksiat
2. Menyesali perbuatan dosa yang dilakukan.
3. Berkemauan keras dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Rabb-mu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh, aku takut kamu akan ditimpa adzab pada hari yang besar (Kiamat).[Hûd/11:3]

al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “(yaitu) Aku memerintahkan kalian untuk beristighfâr (memohon ampunan) dari dosa-dosa yang telah lalu, dan bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla di masa-masa yang akan datang , dan teruslah begitu, (niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada-mu) yaitu di dunia, (sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik) yaitu di akhirat.[8]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “(Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Rabbmu) yaitu mohon ampuan dari dosa-dosa yang telah engkau perbuat, (Dan bertaubat kepada-Nya) yaitu bertaubatlah pada masa kalian yang akan datang dengan kembali kepada-Nya, bertaubat dan kembali kepada-Nya dari apa-apa yang dibenci Allâh kepada yang dicintai dan diridhai-Nya.[9]

Syaikh ‘Abdul Mâlik Ramdhani berkata, “Aku berkata, ‘Dengan ini, menjadi jelas bagimu rahasia dikaitkannya taubat dengan istighfâr, seperti dalam firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allâh dan memohon ampunan kepada-Nya ? Allâh Maha pengampun, Maha penyayang.” [al-Mâidah/5:74].

Jadi, istighfâr adalah meninggalkan dosa-dosa yang telah lalu, sementara taubat adalah tidak terus menerus dalam perbuatan (dosa) pada waktu yang akan datang. Dan Allâh telah menggabungkan keduanya dalam satu ayat dalam firman-Nya :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allâh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allâh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imrân/3:135] [10]

Terkadang kata istighfâr disebutkan sendiri dan bisa membuahkan ampunan seperti disebutkan dalam hadits bab ini dan hadits-hadits yang semakna. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istighfâr (bila disebutkan sendirian) adalah istighfâr yang diiringi taubat. Ada juga yang menyebutkan bahwa nash-nash istighfâr yang disebutkan sendirian itu mutlak, dengan syarat tidak terus-menerus dalam perbuatan dosa, sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imrân/3:135. Allâh telah menjanjikan ampunan bagi orang yang beristighfâr kepada-Nya dari dosa-dosanya dan tidak terus-menerus mengerjakannya. Jadi, nash-nash istighfâr yang masih bersifat mutlak itu dibawa pengertiannya ke makna ini.

Dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا ، فَقَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ . ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ ، فَقَالَ: أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: عَبْدِيْ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ . ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ ، فَقَالَ: أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ ، اِعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ .

Seorang hamba mengerjakan dosa kemudian berkata, ‘Ya Allâh, ampunilah aku.’ Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku mengerjakan dosa dan ia tahu bahwa ia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya.’ Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.’ Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya.’ Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.’ Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Hambaku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya, berbuatlah sesuka engkau, Aku telah mengampunimu.’”[11]

Maksudnya, orang tersebut selalu dalam kondisi seperti itu, jika ia berbuat dosa, ia beristighfâr yang disertai sikap tidak terus-menerus berbuat dosa.

Terkadang sikap terus menerus berbuat dosa menjadi penghalang terkabulnya do’a. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلٌ لِلْمُصِرِّيْنَ الَّذِيْنَ يُصِرُّوْنَ عَلَى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْن

Celakalah bagi orang-orang yang terus menerus mengerjakan apa yang telah mereka kerjakan (dosa) padahal mereka tahu.[12]

Istighfâr yang paling sempurna adalah istighfâr yang disertai dengan sikap meninggalkan perbuatan dosa. Itulah taubat nashuuh (hakiki). Jika ada orang berkata, “Aku memohon ampunan kepada Allâh.” Namun hatinya tidak berkeinginan untuk berhenti dari dosa, maka ucapannya itu hanyalah do’a semata atau murni seperti orang yang berdo’a, “Ya Allâh, ampunilah aku.” Do’a tersebut baik dan ada harapan do’anya dikabulkan. Orang yang mengatakan bahwa itu taubatnya para pembohong, maka yang dimaksud ialah taubatnya ini bukan taubat yang diyakini kebanyakan manusia. Karena taubat seseorang tidak sah jika ia terus-menerus berbuat dosa.

Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Cukuplah seseorang dikatakan pembohong jika ia berkata, ‘Aku minta ampunan kepada Allâh,’ kemudian ia mengulangi dosanya.”

Istighfâr yang paling baik ialah pertama-tama seorang hamba menyanjung Allâh Subhanahu wa Ta’ala , kemudian mengakui dosa-dosanya, kemudian minta ampun kepada-Nya, seperti disebutkan hadits dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu anhu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sayyidul istighfâr (istighfâr yang paling utama) ialah seorang hamba berkata :

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ، وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْليِْ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ.

Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku (yakin) dengan janji-Mu dan aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa saja yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku, aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.[13]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasûlullâh, ajari aku do’a yang akan aku panjatkan dalam shalatku.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Katakanlah :

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

‘Ya Allâh, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, karenanya, ampunilah dosa-dosaku dengan ampunan dari-Mu dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”[14]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَاللهِ إِنِّيْ لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوْبُ إِلَيْهِ فِيْ الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

Demi Allâh, aku sungguh minta ampunan kepada Allâh dan bertaubat kepada-Nya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.[15]

Dan dalam hadits dari al-Aghar al-Muzani Radhiyallahu anhu , bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِيْ الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ.

Sungguh hatiku ditutup (dari lalai dzikir) dan aku minta ampunan kepada Allâh dalam sehari sebanyak seratus kali[16]

Kesimpulannya, obat dosa-dosa ialah beristighfâr, diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya setiap penyakit mempunyai obat dan obat dosa ialah istighfâr.”[17]

Barangsiapa dosa-dosa dan kesalahannya banyak hingga tidak terhitung, hendaklah ia meminta ampunan kepada Allâh yang Maha mengetahui segala sesuatu. Allâh Azza wa Jalla firman-Nya :

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Pada hari itu mereka semuanya dibangkitkan oleh Allâh, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allâh menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allâh Maha menyaksikan segala sesuatu.a [al-Mujâdilah/58:6]

Ketiga : Tauhid Merupakan Faktor Terbesar Penyebab Ampunan

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً.

Hai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa hampir sepenuh bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.

Tauhid merupakan faktor terbesar penyebab ampunan. Barangsiapa tidak mempunyai tauhid, ia tidak mendapatkan ampunan. Barangsiapa membawa tauhid, sungguh ia membawa aspek terbesar penyebab ampunan. Allâh Azza wa Jalla berfiman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki…” [an-Nisâ’/4:48]

Barangsiapa datang dengan bertauhid dan membawa kesalahan-kesalahan seberat bumi, ia ditemui Allâh dengan ampunan seberat bumi pula, namun ini sesuai dengan kehendak Allâh Azza wa Jalla . Jika Dia berkehendak, Dia mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia menyiksanya karena dosa-dosanya, namun dia tidak kekal di neraka dan akhirnya akan dimasukkan surga. Jika tauhid seorang hamba dan keikhlasan kepada Allâh sempurna, syarat-syaratnya ditunaikan dengan hati, lisan dan anggota tubuhnya, atau dengan hati dan lisannya ketika hendak meninggal dunia, maka itu semua menyebabkan dirinya mendapatkan ampunan dari dosa-dosa silamnya dan menghalanginya masuk neraka.

Jadi, barangsiapa mengisi hatinya dengan tauhid, maka semua yang bertentangan dengannya akan tersingkir. Ketika itulah, seluruh dosa dan kesalahan-kesalahannya akan sirna meski sebanyak buih di laut. Kesalahan-kesalahan itu bisa saja berubah menjadi kebaikan. Karena tauhid adalah penghancur terbesar dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Jika salah satu biji sawi tauhid diletakkan di atas gunung dosa atau kesalahan, pastilah tauhid mengubah dosa dan kesalahan tersebut menjadi kebaikan. Inilah diantara keutamaan tauhid.

FAWA-ID HADITS :
1. Keutamaan Adam q dan keturunannya. [al-Isrâ’/18: 70]
2. Barangsiapa berdo’a kepada Allâh dan berharap kepada-Nya niscaya Allâh akan mengampuninya.
3. Berdo’a harus diiringi dengan rasa harap.
4. Luasnya karunia dan ampunan Allâh buat para hamba-Nya.
5. Sekalipun dosa hamba itu besar dan banyak, maka ampunan Allâh itu lebih besar dan banyak.
6. Keutamaan istighfâr dan taubat
7. Apabila manusia banyak berbuat dosa kemudian bertemu Allâh dengan tidak menyekutukan-Nya, maka Allâh akan mengampuninya.
8. Tauhid yang ikhlas dan bersih dari syirik sebagai sebab terampunkannya semua dosa.
9. Keutamaan dan besarnya ganjaran tauhid.
10. Bantahan kepada Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar selain syirik.
11. Menetapkan sifat kalam (berbicara) bagi Allâh Azza wa Jalla yang sesuai dengan kemuliaan-Nya.
12. Penjelasan tentang makna dan konsekuensi “لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ” yaitu meninggalkan semua bentuk kesyirikan, yang besar dan kecil, dan tidak cukup hanya mengucapkan dengan lisan saja.
13. Menetapkan tentang adanya kiamat, kebangkitan, hisab dan balasan.
14. Menetapkan bahwa manusia akan bertemu dengan Allâh pada hari Kiamat.

Maraaji’
1. Al-Qur’ânul Karîm dan terjemahnya.
2. Tafsîrul Qur’ânil Azhîm, Ibnu Katsiir, tahqiq Saami Salamah.
3. Taisîrul Karîmir Rahmân fi Tafsîri Kalâmil Mannân, cet. Maktabah al-Ma’arif.
4. Shahîh al-Bukhâri.
5. Shahîh Muslim.
6. Sunan at-Tirmidzi.
7. Sunan Abu Dawud.
8. Sunan an-Nasâ’i.
9. Sunan Ibnu Mâjah
10. Musnad Imam Ahmad.
11. Mustadrak al-Hâkim.
12. Al-Mu’jamul Kabîr.
13. At-Ta’lîqâtul Hisân.
14. Al-Adabul Mufrad.
15. Shahîh al-Adabil Mufrad.
16. Silsilatul Ahâdîts ash-Shahîhah.
17. Hidâyatur Ruwât ila Takhrîji Ahâdîtsil Mashâbîh wal Misykât.
18. Jâmi’ul ’Ulûm wal Hikam.
19. Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
20. Qawâ’id wa Fawâ-id minal Arba’in an-Nawawiyyah.
21. Al-Fawâ-id al-Mustanbathah minal Arba’in an-Nawawiyyah, ‘Abdurrahman bin Nâshir al-Barrak.
22. Madârikun Nazhar fis Siyâsah, cet. IX th. 1430 H/2009 M, Darul Furqan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Diringkas dari Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/402-418).
[2]. Shahih: HR. Ahmad (IV/267, 271, 276), Abu Dawud (no. 1479), at-Tirmidzi (no. 3247), Ibnu Mâjah (no. 3828).
[3]. Hasan: HR. at-Tirmidzi (no. 3479) dan al-Hâkim (I/493). Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 245) dan Silsilatul Ahâdîtsish Shahîhah (no. 594).
[4]. Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 6339), Muslim (no. 2679), Ahmad (II/243) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[5]. Potongan hadits Abu Hurairah ini diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah (no. 910, 3847) dan Ibnu Hibbân (no. 865-at-Ta’lîqâtul Hisân).
[6]. Hasan shahih: HR. Ahmad (III/18), al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 710), al-Hâkim (I/493) dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu , dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Adabil Mufrad (no. 547). Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 3573), dari ‘Ubadah bin Shamit Radhiyallahu anhu. Lihat Shahîhul Jâmi’ (5678).
[7]. HR. Muslim (no. 2679), Ahmad (II/457-458), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 607), dan Ibnu Hibban (no. 893-at-Ta’lîqâtul Hisân).
[8]. Tafsîr al-Qur’anil ‘Azhim, (IV/303), tahqiq Saami Salamah.
[9]. Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannân (hlm. 385), cet. Maktabah al-Ma’arif.
[10]. Lihat Madârikun Nazhar fis Siyâsah (hlm. 453), cet. IX th. 1430 H/2009 M, Daarul Furqan.
[11]. Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 7507) dan Muslim (no. 2758).
[12]. Shahih: HR. Ahmad dalam Musnad-nya (II/165 dan 219) dan al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 380). Lihat Silsilatul Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 482).
[13]. HR. al-Bukhâri (no. 6306, 6323), Ahmad (IV/122-125), dan an-Nasa-i (VIII/279-280), dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu anhu.
[14]. HR. al-Bukhâri (no. 834, 6326, 7387, 7388) dan Muslim (no. 2705 (48)).
[15]. HR. al-Bukhâri dalam Fat-hul Baari (no. 6307).
[16]. HR. Muslim (no. 2702(4)).
[17]. HR. Hâkim (IV/242) dari Abu Dzar secara mauquf. Adz-Dzahabi menshahihkan dan menyetujuinya

Sumber Artikel : Al-Manhaj.or.id